Maret 11, 2010 di Blog oleh Udin sahrudin. HS
Tulisan ini berdasarakan pengalaman saya saat tugas lapangan di Pulau Lombok dan Sumbawa.
Sekitar bulan Februari 2010 saya bertugas kunjungan lapangan ke Kab. Sumbawa Barat, saat masih di Mataram (untuk singgah sbentar) saya ketemu sesorang yang masih berhubungan dengan pekerjaan dengan saya, saya sebut saja namanya si Fulan.
Entah darimana ia mendapatkan ide untuk berdiskusi dengan saya tentang hal-hal yang berbau agama, mungkin karena dia sering melihat saya kerpa kali memimpin do’a dalam acara-acara yang diadakan di pusat (Jakarta) dan si Fulan biasanya ikut jadi peserta.
Baca lembaran selengkapnya →
Share on Facebook
Maret 11, 2010 di Blog oleh kang Anom
Oleh: Ahmad Tohari

Ahmad Tohari
“Afdolnya, ketua umum PB NU bukan dari kalangan politisi.” Itu kata Mas Karso Wachidi, orang Cilacap, Jawa Tengah. Menurut warga NU yang amat setia itu, hanya orang yang punya semangat mengembangkan pemberdayaan masyarakat yang bisa mengubah gerakan NU yang sekarang melempem ini. Masih kata Mas Karso, selama ini arah gerakan NU lebih berorientasi elitis, mengerucut ke atas, melayani kepentingan para elite. Padahal, seharusnya gerakan NU berorientasi populis, melebar ke bawah untuk menyejahterakan umat. Kalau tidak terjadi perubahan orientasi itu, NU akan tetap seperti sekarang; mati tidak, hidup juga tidak. Dengan begitu, kondisi warganya akan tetap serba tertinggal.
Baca lembaran selengkapnya →
Share on Facebook
Maret 11, 2010 di Blog oleh achmad shampton masduqie
Senin 22 Februari yang lalu, dalam pertemuan kyai-kyai se-Jawa Timur, KH. Mustofa Bisri bercerita bahwa tradisi NU itu dulu selalu berebut menolak untuk memegang jabatan. Kyai Bisri Syansuri dan Kyai Wahab Hasubullah menolak menjadi Rais Akbar karena ada Kyai Hasyim Asy’ari. Sepeninggal Kyai Hasyim, keduanya menolak, terlebih kyai lainnya. Saat Kyai Wahab Hasbullah akhirnya bersediapun dengan konsensus Rais Akbar diganti dengan istilah “Rais Am”.
Sepeninggal Kyai Bisyri setelah mengganti Kyai Wahab, para kyai sepuh berembuk memilih pengganti, saat Kyai As’ad Syamsul Arifin ditunjuk untuk menjadi Rais Am menolak karena merasa belum pangkatnya, bahkan saat dipaksa para kyai, Kyai As’ad dengan tegas menyatakan: “meskipun malaikat jibril turun dari langit untuk memaksakan saya, saya pasti akan menolak!!, yang pantas itu Kyai Mahrus Ali.” Kyai Mahrus Ali pun bereaksi saat namanya disebut Kyai As’ad: “Jangankan malaikat Jibril, kalaupun malaikat Izrail turun dan memaksa saya, saya tetap tidak bersedia!” Akhirnya musyawarah ulama memutuskan memilih Kyai Ali Maksum yang saat itu tidak hadir.
Baca lembaran selengkapnya →
Share on Facebook
Maret 6, 2010 di Blog oleh Muhammad Rizqi Romdhon
Oleh: Acep Zamzam Noor
SELEPAS berkelana selama belasan tahun di sejumlah pesantren, seorang santri pulang ke kampung halamannya. Yang pertama-tama ingin dilakukan adalah bagaimana menghidupkan langgar yang berada di dekat rumahnya. Mula-mula ia mengambil inisiatif dalam sembahyang berjamaah, yakni menjadi imam meski hanya diikuti beberapa orang saja. Lalu ia menawarkan pengajian mingguan untuk para tetangga dan kemudian membentuk majlis ta’lim ibu-ibu. Ketika para tetangga mulai tertarik menitipkan anak-anaknya untuk dibimbing dalam pendidikan agama, ia pun membuka pengajian elementer untuk anak-anak. Semuanya berlangsung di langgar yang ukurannya kecil saja.
Seiring dengan bergulirnya waktu, anak-anak yang mengaji pun semakin banyak. Bukan hanya anak-anak dari kampung sekitar, namun banyak juga anak-anak dari kampung lain. Mulailah terpikir perlunya sebuah pondok untuk menampung mereka yang datang dari jauh itu. Maka dengan gotong royong bersama masyarakat yang mulai mempercayai kealiman serta ketulusannya, sebuah pondok kecil pun dibangun meski hanya untuk menampung beberapa puluh orang anak saja.
Baca lembaran selengkapnya →
Share on Facebook