Kiai Kampung
Maret 6, 2010 di Blog oleh Muhammad Rizqi Romdhon
Oleh: Acep Zamzam Noor
SELEPAS berkelana selama belasan tahun di sejumlah pesantren, seorang santri pulang ke kampung halamannya. Yang pertama-tama ingin dilakukan adalah bagaimana menghidupkan langgar yang berada di dekat rumahnya. Mula-mula ia mengambil inisiatif dalam sembahyang berjamaah, yakni menjadi imam meski hanya diikuti beberapa orang saja. Lalu ia menawarkan pengajian mingguan untuk para tetangga dan kemudian membentuk majlis ta’lim ibu-ibu. Ketika para tetangga mulai tertarik menitipkan anak-anaknya untuk dibimbing dalam pendidikan agama, ia pun membuka pengajian elementer untuk anak-anak. Semuanya berlangsung di langgar yang ukurannya kecil saja.
Seiring dengan bergulirnya waktu, anak-anak yang mengaji pun semakin banyak. Bukan hanya anak-anak dari kampung sekitar, namun banyak juga anak-anak dari kampung lain. Mulailah terpikir perlunya sebuah pondok untuk menampung mereka yang datang dari jauh itu. Maka dengan gotong royong bersama masyarakat yang mulai mempercayai kealiman serta ketulusannya, sebuah pondok kecil pun dibangun meski hanya untuk menampung beberapa puluh orang anak saja.
Share on Facebook
Kamis, 24 Dersember 2009, Gus Dur berkunjung ke Rembang, menemui sahabat terdekatnya yang juga paman saya, Kiai Mustofa Bisri. Seperti biasa, saya pun ikut menemui. Di ruang tamu paman saya siang itu, tiga orang menemaninya mengobrol: paman saya, saya dan Kiai Manshur Hafidh, adik salah seorang sahabat lama Gus Dur yang belum lama meninggal, Kiai Wahab Hafidh. Bu Nur (Ibu Shinta Nuriyah) di pojok lain ruangan yang luas itu, mengobrol dengan Bulik Siti (Ibu Siti Fatmah, isteri paman saya) dan Pakdhe Kih (Kiai Faqih Kusuma, paman saya yang lain) yang adalah teman sekolah beliau di Yogya dulu.